English Chinese (Simplified) Korean Indonesian


Notulensi Policy Dialoque
POIN-POIN HASIL DISKUSI
POLICY DIALOQUE SERIES (PDS)


PENYELENGGARA:
BP2KP KEMENTERIAN PERDAGANGAN

TEMPAT:
KANTOR KEMENTERIAN PERDAGANGAN RI

HARI/TANGGAL:
KAMIS/19 NOVEMBER 2019

WAKTU:
09.00-12.00

TOPIK:
OUTLOOK PERDANGAN INDONESIA 2016


NARA SUMBER:
  1. CAHYO WIDOWATI (KEPALA BP2KP KEMENTERIAN PERDAGANGAN)
  2. ENI SRI HARTATI (DIREKTUR EKSEKUTIF INDEF) : CAPAIAN KINERJA PERDANGAN 2015 DAN PROYEKSI 2016
  3. JUDA AGUNG, PHD (DIREKTUR EKSEKUTIF DEPARTEMEN KEBIJAKAN EKONOMI DAN MONETER BANK INDONESIA): OUTLOOK PEREKONOMIAN DAN RESPONS KEBIJAKAN MONETER
  4. BAYU KRISNA MUKTI (MANTAN WAKIL MENTERI PERDANGANGAN RI): TARGET KEMENDAG DAN PERDANGANGAN DALAM NEGERI

Berikut adalah poin-poin yang disampaikan oleh para narasumber dalam diskusi tersebut. Selengkapnya dapat dilihat pada materi yang disampaikan oleh para narasumber:
  1. CAHYO WIDOWATI (KEPALA BP2KP KEMENTERIAN PERDANGANGAN)
    • Memaparkan tujuan dari kegiatan Policy Dialogue Outlook Perdangan 2016
    • Kondisi perekonomian terutama dari kinerja export dan impor Indonesia masih cukup menjajikan karena permintaan dunia yang meningkat, serta adanya pertambahan penduduk.
    • Peluang dan tantangan perekonomian Indonesia dipengaruhi oleh beberapa factor, yakni: Penurunan harga komoditi; harga energy; nilai tukar, dan iklim investasi.
    • Saat ini dan tahun 2016, perekonomian negara-negara tujuan export utama belum sepenuhnya pulih. Impor negara-negara maju hanya tumbuh 3, sementara emerging countries 4,4%.
    • Kinerja eksport-import Indonesia sangat dipengaruhi dari perubahan kebijakan di China,  yakni apakah kebijakan devaluasi masih akan terus dilakukan atau tidak. Hal ini akan berimbas besar terhadap kinerja export dan impor Indonesia yang semakin menurun.
    • Kinerja ekport Indonesia sangat dipengaruhi oleh kondisi negara tujuan Eksport Utama Indonesia, yakni: 1) RRT; 2) USA; 3) Jepang.
    • Kondisi ekspor Indonesia juga dipengaruhi oleh adanya peningkatan iklim berusaha di Indonesia yang mulai membaik sebagai dampak positif dari paket-paket kebijakan ekonomi (Deregulasi dan Debirokratisasi) yang sudah mulai memperlihatkan hasilnya.
    • Arah Kinerja Perekonomian Indonesia tahun 2016 berdasarkan asumsi-asumsi: Growth: 5,3% ; Inflasi 4,7%; BI Rate 12,5% dan Kurs Rupiah terhadap USD sebesar Rp.13.500,-
    • Dengan asumsi seperti diatas maka, diaharapkan kinerja Export Impor akan meningkat dari sebelumnya di tahun ini (2015 Januari – November) Export turun 14% dan import turun 17%, akan tumbuh positif.
  2. ENNY SRI HARTATI (DIREKTUR EKSEKUTIF INDEF)
    • -    Surplus perdangan RI selama tahun 2015 terjadi bukan karena kinerja export yang baik tetapi karena dropnya kinerja import.
    • -    Sesungguhnya kinerja export Indonesia sudah mengalami penurunan sejak tahun 2012. Sementara Import lebih banyak untuk bahan baku dan bahan penolong.
    • -    Tahun 2015 (dan rata-rata tahun sebelumnya) kontribusi export terhadap PDB Indonesia hanya sebesar 23,72%, merupakan yang terendah dibandingkan negara-negara utama lain di dunia keculai India (23,59%).
    • -    Indonesia harus meningkatkan exportnya agar tidak terjebak dalam midle trap income.
    • -    Tahun 2010 – 2011 Kinerja Export Indonesia tertonlong oleh booming export komoditi (Harga Komoditi di pasar internasional sedang bagus- batu bara, kelapa sawit, perkebunan lain). Hal ini mengakibatkan kita terlena dan kurang mengembangkan kinerja export dari manufacture.
    • -    Kinerja export dan perekonomian Indonesia sangat elastis terhadap perbuhan yang terjadi di China dari pada perubahan yang terjadi di USA. Jika teradi penurunan ekonomi china sebesar 1% maka akan mengakibatkan perubahan export Indonesia sebesar 11%.
    • -    India merupakan anomaly diatara negara-negara di dunia, diamana India dapat survive dari hantaman kelesuan ekonomi dunia. Hal ini terjadi karena adanya kebijakan dalam negeri India dalam melakukan stabilisasi harga, baik untuk bisnis maupun untuk konsumsi masarakat. Sayangnya export Indonenesia ke India tidak besar.
    • -    Indonenesia harus mampu meningkatkan export ke negara-negara non tradisional (Afrika, Amerika Latin, Timur Tengah) hingga30%, dimana saat ini baru mencapai 1%.
    • -    Kedepannya Industri Kreatif dapat didorong untuk meningkatkan kinerja export nasional, hal ini dilihat dari trend pasar internasional.
  3. JUDA AGUNG, PHD (DIREKTUR EKSEKUTIF DPARTEMEN KEBIJAKAN EKONOMI DAN MONETER BI)
    1. Konsumsi Indonesia meningkat 5% sementara import (termasuk untuk konsumsi) justru mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan penggunaan produk dalam negeri.
    2. Resiko ke depan dalam upaya meningkatkan kinerja perdagangan Indonesia, antara lain:
      • Perekonomian dunia belum cukup kuat, sementara adanya rencana kenaikan FFR (Fed Fund Rate) sekitar bulan Desember 2015
      • Pelemahan ekonomi Tiongkok. Tingginya resiko Tiongkok berpengaruh pada: 1) Penurunan harga komoditas di jangka pedek dan 2) Peenurunan pasar sahan secara global.
      • Penurunan PDB Tiongkok sebesar 1% berpotensi menekan export Indonesia ke Tiongkok sebesar 10,2%
      • Kenaikan administrative prices yang tidak terkelola dengan baik:
        • Penyesuaian tariff listri RT 1300 VA dan 2200VA sesuai harga keekomiannya yang semula direncanakan tahun 2015, baru akan dinaikkan tahun 2016
        • Penurunan harga gas industri (dari USD 8 MMBTU menjadi 7 USD)
        • Penyesuaian harga LPG 2 Kg
        • Pengalihan pelanggan listrik dengan daya 900 VA ke 1300 VA
      • Penurunan harga komoditas di pasar internasional
      • Share manufaktur yang menurun terhadap export, sementara demand kelas menengah meningkat.
      • Ekoomi akan pulih secara gradual, diperkirakan di tahun 2016 sebesar 5,2-5,6% dari di tahun 2015 4,7-4,8%
      • Respon kebijakan yang dilakukan oleh BI
        • Memanfaatkan ruang pelonggaran stance kebijakan moneter dengan hati-hati memperhitungkan resiko ketidakpastian yang tinggi dalam jengka pendek  menurunkan GWM Primer Rupiah (Tax terhadap deposito yang dimiliki Bank) 50 bps
        • Menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sejalan dengan fundamentalnya  Kebijakan stabilitasi rupiah, penguatan supply demand valas, penguatan cadangan devisa dan pendalaman pasar keuangan
        • Kebijakan makroprudensial yang akomodatif dalam mendorong pertumbuhan kredit
        • Penguatan koordinasi dengan pemerintah.
  4. BAYU KRISNA MURTI (MANAN WAKIL MENTERI PERDAGANGAN)
    • Lebih optimis dalam melihat prospek perekonomian (kinerja perdagangan) ke depan.
    • Menekankan pentingnya volume perdagangan. Tahun 2012-2013 volume perdagangan RI mencapai 400M USD.
    • Investadi dalam 3 tahun terakhir akan lebih besar lagi. Permasalahannya pada utilisasi yang masih rendah, dan yakin masih dapat dinaikkan lagi sehingga volume perdaganan akan meningkat.
    • Tidak banyak yang dapat dilakukan untuk meningkatkan export Indonesia. Saat ini share export dari manufacture baru mencapai +/- 20% dari PDB.
    • Dalam kinerja export suatu negara (Indonesia) ada decision lain diluar negara (pemerintah) yang sangat berpengaruh, yakni GSC (Global Supply Chain). GSC ini diluar kendali pemerintah, kecuali pemerintah dapat menekan agar produksi dan export yang dilakukan di Indonesia dapat ditingkatkan.
    • India merupakan partner dagang penting bagi Indonesia karena terhadap India perdagangan Indonesia mengalami surplus terbesar dibandingkan negara-negara lainnya.
    • Berdasarkan WTO volume perdagangan dunia akan meningkat 4%, dengan beberapa kawasan (negara) tertentu yang memiliki share terbesar:
    • North Amerika 5%  USA, Kanada, growth nya sama dengan Asia. Sehingga Amerika Utara merupakan kawasan yang sangat strategis dan vital, sehingga menjadikan alasan kita untuk tidak mengalihkan mata uang untuk transaksi dari US$.
    • China akan mengurangi deficit perdagangan: China beralih ke ekonomi berbasis konsumsi dalam negeri. Untuk itu ada peluang kerjasama dengan non Beijing yang dinilai lebih liberal.
    • Harus tetap memanfaatkan momentum perbaikan ekonomi di USA.
    • Asean juga memiliki peluang yang besar
    • Negara-negara Afrika selatan, sebagai tujuan export non tradisional yang harus digarap, saat ini masih ada tariff BM sebesar 30-40%.
    • Pakistan juga dapat dijadikan pintu masuk ke negara-negara di atas dan disampingnya.
    • IRAN: payment syatem sudah terbuka dan bleum memiliki banyak partner dagang.
    • UEA dan Qatar menadi hub untuk masuk ke negara-negara Timur Tengah dan Afrika.
    • Yang paling penting adalah menjaga komunikasi yang baik dengan pengambil kebijakan “Global Supply Chain” seperti Otomotif, Garmen, Aparel, Alas Kaki, Elektronik, dan Makanan dan Minuman.